Dua Minggu Tanpa Shampoo

Eksperimen untuk hidup tanpa shampoo sudah berjalan selama 2 minggu, yang terasa sangaaat panjang. Mungkin ini percobaan yang terlihat aneh, buat apa sih repot-repot ngga pake shampoo? Kan hidup sudah difasilitasi dengan berbagai kemudahan, termasuk untuk membersihkan rambut. Tinggal beli di supermarket dengan harga yang terjangkau, pakai shampoo, lalu rambut bersih, indah dan wangi. Ya, seandainya memang sesederhana itu, tentu hingga hari ini saya masih tetap memakai shampoo. Tapi masalahnya, memakai shampoo tidak seindah seperti yang ada di iklan.

Orang Pakistan yang “Hangat”

Tak terasa sudah satu bulan saya menetap di Karachi, Pakistan. Sedikit banyak saya mulai mempelajari budaya masyarakat setempat yang sangat menarik. Ada yang mengatakan, iklim setempat sangat memengaruhi watak masyarakat. Misalkan masyarakat Eropa yang cenderung dingin, seirama dengan iklimnya yang juga dingin. Masyarakat Indonesia yang hangat dan kekeluargaan, tidak terlepas dari iklim Indonesia yang hangat sepanjang tahun. Dan iklim Pakistan yang sangat panas di musim panas, sepertinya juga ikut membuat masyarakatnya menjadi hangat…hmmm dan terkadang terlalu hangat.

Pohon Ketapang Dubes Lutfi Rauf

“Dulu disitu ada pohon Ketapang tapi udah mati, 80 tahun (usia) pohon itu” ujar Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand, M. Lutfi Rauf, sambil menunjuk ke arah sebuah lokasi pohon yang terletak di halaman belakang yang luas dari Wisma Indonesia yang berlokasi di pusat kota Bangkok. “Tapi sekarang pohon mati bisa hidup lagi Pak Konjen,” selorohnya sambil tersenyum kecil kepada Konjen RI di Karachi dan saya.

Perkenalan dengan Karachi

Bom, pembunuhan berencana, penculikan, penembakan dan hal-hal jelek berkecamuk di kepala saya saat saya menerima keputusan penugasan yang di Kementerian Luar Negeri, yang kami kenal dengan ‘slip merah’. Sama sekali sulit untuk memikirkan hal-hal baik tentang Karachi. Kota yang saat itu akan saya tuju untuk menjalani penugasan pertama sebagai diplomat.

Pakistan, wait for us very soon

Perjalanan yang malas-malas sedap, sebentar lagi harus dimulai. Malas-malas sedap? Yah…Barangkali bagi kita, perjalanan menyenangkan adalah ke Eropa, Amerika atau Australia. Pasti tidak ada yang pernah bermimpi untuk menginjakkan kaki di Karachi, Pakistan. Apalagi untuk menetap selama tiga tahun. Tapi jika tugas sudah memanggil, tiada kata tidak yang akan terucap.