Menuju Louvre, Seperti Robert Langdon dan Sophie Neveu

(Bagian II dari IV Tulisan)

Perjalanan ke Bandara Tegel di Berlin tidak terlalu jauh dari apartemen kami. Hanya dalam waktu sekitar 45 menit, kami sudah tiba di bandara. Masih ada waktu untuk mengisi perut dan menenangkan jantung. Ah, hampir saja terlambat. Jika saja saya terlambat, saya akan menggaruk-garuk tanah, memukul-mukul tembok dan menangis meraung-raung. Saya bersyukur, saya tidak terlalu bodoh untuk ketinggalan penerbangan ke Paris.

Saya, Maricel dan Van lalu menuju ke sebuah cafetaria. Saya membeli sebuah croissant dan segelas juice segar. Nikmat sekali. Kelembutan dan kegurihan croissant menyatu dengan juice yang manis. Bahkan saya sudah menghirup aroma Paris sejak di Bandara Tegel, Berlin. Meskipun untuk kenikmatan sesaat itu, saya harus membayar sebanyak € 7 atau sekitar Rp 101.500. Ah, semuanya memang mahal di bandara, apalagi di bandara Eropa.

Kami lalu memasuki kabin pesawat Air France yang kesohor. Baru-baru ini Air France lebih kesohor lagi karena berhasil terjun bebas dan berenang di Samudra Atlantik. Menewaskan ratusan orang yang menumpang di kabinnya. Manusia-manusia malang yang terbang dari Rio de Janeiro menuju Paris. Mungkin mereka juga berencana akan berlibur ke Paris, seperti saya saat ini. Maka saya memejamkan mata dan berdoa panjang sekali, agar nasib saya tidak seperti mereka. Berakhir mengenaskan di lambung Air France!

Kami memilih untuk terbang dengan Air France karena pesawat ini akan mendarat di Bandara Charles de Gaulle. Kami berpikir, bandara Charles de Gaulle adalah bandara terbesar di Paris. Pastilah bandara ini terletak di tengah kota, karena itu kami rela merogoh kocek dalam dengan harapan bisa menghemat waktu. Sungguh pemikiran yang bodoh.

Ternyata sesungguhnya Charles de Gaulle berada di pinggiran Paris. Sangat jauh dari pusat kota Paris. Bandara Paris yang berada lebih di tengah kota adalah bandara kecil bernama Orly.

Biasanya Orly melayani penerbangan yang tidak terlalu mahal. Saya menyarankan bagi kalian yang akan pergi ke Paris, sebaiknya memilih bandara Orly saja. Jangan mengulangi kesalahan kami yang memilih Charles de Gaulle. Kecuali jika kalian ingin melihat Bandara Charles de Gaulle yang hebat dan canggih.

Saya sangat lelah dan tertidur hampir selama 1,5 jam perjalanan itu. Tapi tentu saja saya tidak melewatkan sarapan pagi di udara bersama Air France. Pagi itu, saya kembali menyantap croissant hangat dan mengepul. Sungguh, aroma Paris sudah tercium sejak mula.

Dalam beberapa saat lagi saya akan tiba di Paris. Saya merasakan letupan-letupan hangat di dada saya, sensasi yang selalu saya rasakan ketika bersemangat. Euforia yang nikmatnya tiada tara.

Sekitar pukul 08.30 pagi, kami tiba di Bandara Charles de Gaulle. Saya dan Van memekik tertahan, “Van, we’re in Paris!” kata saya kegirangan. Kami pun tidak bisa berhenti tersenyum lebar, menyadari kami telah ada di Paris. Hanya Maricel yang terlihat tenang dalam perjalanan ini.

Maricel selalu bertindak sebagai penunjuk jalan. Dengan cepat, Maricel telah mendapatkan peta Paris di pusat informasi. Tujuan utama kami adalah: Museum Louvre! Saya sudah sejak lama merindukan Monalisa. Lalu kami membeli tiket segala transportasi yang bisa dipakai selama dua hari.

Pusat kota Paris terbagi menjadi tiga zona wilayah. Sedangkan Bandara Charles de Gaulle termasuk dalam zona enam! Itu artinya, bandara ini benar-benar di luar Paris. Kami harus membayar lebih untuk transportasi dari Charles de Gaulle ke pusat kota. Total biaya transportasi yang harus dibayar adalah € 29 selama dua hari, atau sekitar Rp 420.500. Sungguh terlalu!

Sudahlah, kami sedang liburan. Dan saya tidak mau terlalu memusingkan soal uang. Setelah satu minggu yang berat, akhir pekan ini saya harus bersenang-senang! Kami naik kereta dari Charles de Gaulle ke stasiun Chatelet Les Halles. Dari stasiun Chatelet Les Halles, kami berganti kereta yang berhenti di Louvre.

Perjalanan dari Charles de Gaulle ke stasiun Chatelet Les Halles memakan waktu cukup lama, sekitar 45 menit. Kami mengamati setiap stasiun pemberhentian, menghitungnya agar tidak terlewati. Namun kami sedikit bingung, karena kami memiliki dua versi peta perjalanan yang berbeda. Hal ini tidak pernah terjadi di Jerman. Sistem transportasi di Jerman paling nyaman dan efektif di dunia. Kereta di Paris juga tidak senyaman  kereta yang biasa kami tumpangi di Berlin.

Kemudian sampailah kami pada stasiun Chatelet Les Halles. Ternyata Chatelet Les Halles adalah stasiun besar yang membingungkan. Saya tidak tahu, apakah karena kebodohan kami, atau karena petunjuk yang membingungkan, tapi kami membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan kereta yang menuju ke Louvre.

Sistem perkeretaapian di Paris tidak sepraktis Jerman. Di Paris, tiket kereta harus selalu dimasukkan dalam mesin otomatis ketika kita akan naik kereta. Setelah memindai tiket kita, pintu akan terbuka selama beberapa detik, kemudian tertutup kembali.

Tidak demikian dengan di Jerman. Di Jerman, kita hanya perlu membeli tiket, memverifikasi tiket, dan selalu membawanya dalam perjalanan. Tidak ada mesin otomatis yang memeriksa tiket. Pemeriksaan tiket dilakukan secara acak oleh petugas Deutche Bahn (Perusahaan kereta api Jerman). Kelihatannya sederhana sekali. Tapi jangan coba-coba meninggalkan tiket kereta. Jika kedapatan ada penumpang yang tidak memiliki tiket, petugas Deutsche Bahn akan mendenda kita sebesar € 40 atau sekitar Rp 580.000 tanpa ampun!

Kembali ke Paris, sudah tidak terhitung berapa kali kami memasukkan tiket kereta ke mesin pemeriksa. Karena kami sudah keluar masuk pintu pemeriksaan satu ke pemeriksaan lain untuk mencari kereta ke arah Louvre. Akhirnya, kami menemukan kereta yang tepat. Hanya dua stasiun pemberhentian, dan sampailah kami ke Louvre! Dan saya sudah sah menjadi Sophie Neveu di buku da Vinci Code, karena saya sudah ada di Louvre!

louvre
***

Cerita Terkait:

Recommended Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *